Media Positif
Media Positif
Media Positif

Cari Artikel Positif

Ketik untuk mulai mencari...
Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel

Mikrotubulus & Kuantum: Menyingkap Misteri Kesadaran Otak Manusia

Mikrotubulus & Kuantum: Menyingkap Misteri Kesadaran Otak Manusia
Mikrotubulus dan kuantum saling berkesinambungan dalam menghasilkan kesadaran (Sumber: freepik/@kjpargeter)

JAKARTA - MEDIA POSITIF, Temuan menakjubkan terkait cara kesadaran bekerja yang mana mendukung teori Nobel terkait bagaimana fisika kuantum berperan pada otak manusia

  • Eksperimen pada tikus yang dibius menunjukkan bahwa struktur kecil pada otak dan kesadaran.

  • Fenomena kuantum bisa membentuk cara manusia berpikir terkait pertanyaan-pertanyaan penting.

  • Kesadaran terhubung dengan proses kuantum pada alam semesta.

Pernahkah anda membayangkan bahwa struktur kecil pada otak kita ternyata memiliki peranan terkait kesadaran yang kita rasakan setiap hari?

Otak manusia berkesinambungan dengan proses kuantum

Pertanyaan ini mulai menemukan titik terang ketika para peneliti menggunakan otak tikus untuk meneliti lebih dalam terkait kesadaran.

Dalam eksperimen tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa struktur kecil berbentuk tabung berongga di dalam sel saraf yang disebut mikrotubulus tampaknya memegang peranan penting dalam kesadaran makhluk hidup khususnya  manusia. 

Temuan ini memberikan cara pandang baru terkait bagaimana sesuatu yang sangat kecil ternyata bisa berdampak begitu besar pada pengalaman sadar yang kita rasakan setiap hari.

Para ahli pun menduga bahwa proses kuantum yang terjadi di alam semesta mungkin juga berlangsung di dalam otak manusia.

Mungkin saja kesadaran kita terhubung dengan mekanisme yang jauh lebih dalam dan kompleks daripada yang selama ini kita sadari.

Percobaan itu dilakukan di Wellesley College, para peneliti dengan hati-hati mencoba memberikan isoflurane kepada tikus, anestesi yang biasanya digunakan pada pasien agar tidak sadar saat menjalani operasi.

Menariknya, satu kelompok tikus yang diberikan anestesi justru menunjukkan mikrotubulus yang lebih stabil, sedangkan kelompok yang tidak diberikan isoflurane memperlihatkan kondisi yang berbanding terbalik.

Tikus yang mikrotubulusnya stabil cenderung mampu untuk sadar lebih lama dibandingkan tikus dengan mikrotubulus yang tidak stabil, karena mereka lebih cepat kehilangan refleks untuk kembali tegak ke posisi normal.

Temuan ini kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah eNeuro pada Agustus 2024, Studi ini menunjukkan proses kuantum telah mampu membentuk  kesadaran.

Mikrotubulus memungkinkan proses kuantum terjadi di otak

Ide terkait fisika kuantum yang menjadi dasar kesadaran terhadap makhluk hidup, pertama kali muncul pada tahun 1990-an.Ketika itu, Roger Penrose selaku fisikawan peraih Nobel  dan ahli anestesi Stuart Hameroff penasaran dengan mikrotubulus yang memungkinkan proses kuantum terjadi di otak, sebuah gagasan yang menakjubkan bagi dunia sains.

Dalam makalah tahun 1996, mereka mengemukakan bahwa kesadaran bisa bekerja seperti gelombang kuantum yang bergerak melalui mikrotubulus, dimana memperlihatkan betapa kompleks kesadaran dalam diri manusia.

Gagasan ini kemudian dikenal sebagai teori Orch OR (Orchestrated Objective Reduction), yang menjelaskan bahwa mikrotubulus dapat melakukan komputasi kuantum melalui proses reduksi objektif,

Dimana menjelaskan sesuatu yang sangat kecil bisa berperan penting dalam kesadaran manusia. Berbeda dengan fisika klasik, partikel tidak memiliki posisi pasti dalam fisika kuantum, tapi lebih dalam bentuk probabilitas atau kemungkinan. 

Ketika interaksi dengan lingkungan, partikel ketika diukur akan mengalami superposisi dan bisa saja runtuh pada situasi tertentu.

Penrose berhipotesis ketika setiap kali gelombang kuantum runtuh terjadi pada otak, maka muncul 1 momen pengalaman terkait kesadaran yang unik.

Kesadaran bisa saja terjadi pada beberapa tempat dalam proses kuantum

Pada tingkat kuantum, kesadaran bisa saja terjadi pada beberapa tempat sekaligus yang menunjukkan betapa luas dan misteriusnya fenomena kesadaran.

Kesadaran tidak hanya terbatas terjadi pada otak manusia saja. Berdasarkan hipotesis, kesadaran seseorang bisa saja terhubung langsung dengan partikel kuantum di luar otak.

Bahkan bisa saja berinteraksi dengan kesadaran yang ada pada alam semesta, sehingga muncul rasa kagum terhubung dengan berbagai aspek.

Oleh karena itu, ilmuwan tetap bersikap hati - hati karena efek kuantum biasanya hanya dapat diamati di laboratorium pada suhu yang rendah. Berdasarkan studi tahun 2022, suhu otak manusia ada pada sekitar 32–40°C di bagian terdalamnya

Kuantum dalam mikrotubulus memicu kagum antara kompleksitas otak & alam semesta

Dalam jurnal Physical Review E pada Agustus 2024 dijelaskan mielin (lapisan pelindung kaya lemak dan protein yang membungkus akson sel saraf (neuron) pada sistem saraf pusat dan tepi.

Telah menjadi tempat ideal untuk terjadinya proses kuantum dalam diri manusia. Otak sepertinya mampu menjalankan proses kuantum yang menjadi tempat bernaung bagi pikiran kita. 

Oleh karena itu, beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa proses ini mungkin menjadi dasar munculnya kesadaran pada diri manusia dan menjadi alasan terkait terbentuknya kesadaran.

Dua studi telah mendukung perspektif kuantum terkait kesadaran. Keduanya melibatkan eksperimen partikel cahaya ke dalam mikrotubulus dan sinyal yang dihasilkan dalam proses kuantum pada otak manusia tetap utuh.

Salah satu studi dilakukan oleh Jack Tuszy?ski, fisikawan dan profesor onkologi, telah menggunakan foton ultraviolet untuk menghasilkan reaksi kuantum hingga lima nanodetik.

Proses kuantum ini ternyata berlangsung jauh lebih lama daripada yang sebelumnya diperkirakan.Penelitian lain dilakukan di University of Central Florida, di mana para peneliti menyinari cahaya ke salah satu ujung mikrotubulus dan mengukur waktu yang dibutuhkan mikrotubulus untuk memancarkan cahaya kembali.

Pengamatan menunjukkan bahwa pemancaran ulang cahaya berlangsung selama ratusan milidetik hingga detik, waktu yang sempurna bagi otak untuk menjalankan semua fungsinya.

Hal ini menjadi tanda betapa luar biasanya kecepatan dan efisiensi neuron.Temuan ini menjadi bukti konkret bahwa neuron mampu bekerja dengan kecepatan yang memungkinkan operasi kuantum, Sehingga membawa kita lebih dekat untuk memahami hubungan antara fungsi otak, kesadaran, dan alam semesta.

Fenomena kuantum ini bahkan bisa membentuk cara manusia berpikir terkait pertanyaan-pertanyaan penting, memicu rasa refleksi terhadap misteri dan realitas di sekitar kita.***

Original Article: Your Consciousness Can Connect With the Whole Universe, Groundbreaking Research Suggests




Komentar

    ℹ️ Terima kasih, tautan ini akan segera hadir.