Media Positif
Media Positif
Media Positif

Cari Artikel Positif

Ketik untuk mulai mencari...
Bagikan berita positif untuk kebaikan.
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel
Bagikan berita positif untuk kebaikan
WhatsApp Salin Link
*Manfaat membagikan Artikel

5 Kecerdasan Emosional yang Diperlukan Di Tempat Kerja

5 Kecerdasan Emosional yang Diperlukan Di Tempat Kerja
5 kecerdasan emosional yang diperlukan ketika ada di tempat kerja

JAKARTA, MEDIA POSITIF -

Kecerdasan emosional bukan soal menjadi terlalu emosional dengan orang lain. Tapi, mampu untuk menjadi sadar, tenang, baik hati, dan tetap kuat. Meskipun, keadaan terasa sulit untuk dijalani.

  • Tidak ada salahnya untuk berani mengakui apa yang dirasakan karena sesuatu yang dipendam hanya akan menguras emosi.

  • Kunci dari mengontrol diri, anda harus mampu bersikap tenang dimana akan menunjukkan kedewasaan emosional.

  • Kecerdasan emosional akan membantu dalam membuat keputusan yang bijak karena bukan hanya dari pikiran, tapi juga melalui hati.

Kalau anda sedang merasa ragu dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Anda tidak sendirian karena hal itu sebenarnya sangat wajar.

Sering kali kesuksesan dinilai dari skill dan pengalaman semata.Tanpa sadar, anda merasa  harus bersaing dan terus mencari validasi agar diakui mampu.

Dengan kecerdasan emosional membuat anda bisa merasakan dan memahami perasaan orang lain dan diri sendiri. Sama hal dengan empati, anda jadi lebih muda peka.

 Anda yang memiliki kecerdasan emosional jadi bisa menguatkan hati, membangun hubungan yang tulus, serta bisa mengambil keputusan yang bijak.

5 komponen utama dalam kecerdasan emosional

Kecerdasan emosional bukan soal empati, tapi terdapat 5 komponen yang bisa mendasari seseorang memiliki kecerdasan emosional:

1.  Kesadaran diri

Terkadang anda merasa takut untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan hal ini wajar karena tidak semua berani dalam mengungkapkan.

Namun, ternyata tidak ada salahnya untuk berani mengakui apa yang dirasakan karena sesuatu yang dipendam hanya akan menguras emosi dan membuat seseorang tidak mengerti dengan apa yang anda rasakan.

Misalnya, bayangkan ketika anda sedang dikritik oleh atasan di depan rekan kerja, pastinya anda merasa malu dan kesal karena diperlakukan seperti itu. Padahal anda telah berupaya untuk kerja keras dan menghasilkan yang terbaik.

Tentu, pasti ada rasa jika pekerjaan yang anda lakukan tidak baik, padahal belum tentu seperti itu karena bisa saja sepenuhnya bukan tanggung jawab anda karena mungkin saja arahan dari atasan memang belum jelas dan membuat bingung.

Tidak apa - apa kalau anda merasa terluka karena tidak dihargai karena hal ini juga dirasakan oleh semua orang. Oleh karena itu, kesadaran diri dimulai dari kejujuran.

Kunci dari kesadaran diri anda bisa mencoba untuk mengakui perasaan tersebut yang berasal dari hati kalau anda marah dan kecewa tanpa harus anda untuk menyangkalnya dan bisa mengakuinya dengan tenang, sehingga membuat lega.

2.  Mengontrol diri

Ada baiknya anda membiasakan diri untuk mengakui emosi, maka ada langkah selanjutnya dengan bagaimana anda bisa meresponsnya.

Setelah anda mulai berani mengakui emosi, mungkin anda juga pasti mulai bertanya - tanya bagaimana sebaiknya meresponsnya.

Amarah itu sesuatu yang wajar. Kadang perasaan itu terasa begitu kuat hingga sulit dikendalikan, dan itu pun manusiawi. Bersikap tenang bisa membuat anda lebih bisa mengendalikan situasi yang terasa memanas.

Sehingga anda bisa menjawab dengan profesional, bukan karena anda lemah, tapi anda sangat berani untuk mengontrol diri tidak terlibat situasi tegang.

Meski, ada orang yang mengira diam itu tanda seseorang lemah. Namun kenyataan, diam tidak selalu berarti lemah. Bisa jadi seseorang memilih menjaga energinya karena situasinya terasa terlalu melelahkan.

Jika anda bisa tenang dengan mengontrol diri akan membuat anda menjadi kuat mental. Kunci dari mengontrol diri, anda harus mampu bersikap tenang dimana akan menunjukkan kedewasaan emosional.

Dengan anda mulai menerapkan cara seperti ini, maka orang juga akan mulai menghormati anda karena kepemimpinan sejati bukan hanya soal jabatan, tapi tumbuh dari karakter, integritas, dan mengendalikan diri ketika situasi tidak adil.

Otoritas moral sering kali terasa lebih bermakna dibandingkan sekadar jabatan atau gelar, karena tumbuh dari cara seseorang bersikap dalam situasi sulit.

3. Motivasi

Ada kalanya saat bekerja anda investasikan waktu dan tenaga agar pekerjaan bisa cepat selesai bersama tim anda. Namun, terkadang hasil yang didapatkan belum tentu sesuai ekspektasi karena bisa saja mendapatkan kritik keras.

Pada saat atasan memarahi anda dan tim karena pekerjaan kurang sempurna, anda dan tim bisa saja langsung menunduk dan semangat terasa runtuh karena hasil  yang didapatkan justru mengecewakan,

Anda bisa saja merasa sedih dengan ucapan yang dilontarkan oleh atasan anda. Tapi, anda bisa saja memilih pada waktu itu untuk menjadi cahaya kecil di dalam ruangan. 

Meski anda sendiri mungkin masih merasa kecewa, anda perlahan memilih untuk bangkit dan menguatkan tim.dengan mengajak tim untuk berkumpul. 

Anda memahami betul kekecewaan mereka, karena anda pun merasakannya, anda langsung mengucapkan terima kasih ke mereka dan menyadari jika mereka telah bekerja keras bersama anda.

Anda jadi memotivasi mereka dengan menjelaskan kalau kegagalan bukan akhir, tapi bagian dari alur proses.

“Terima kasih atas dedikasi kalian. Mari kita perbaiki bersama. Kali ini, kita akan melakukannya dengan lebih baik.”

Setelah mendengar kalimat ini, tim yang masih memikirkan perasaan salah, kesal, dan kecewa akhirnya bangkit dan menjadi semangat kembali untuk melakukan hal yang terbaik lagi pada pekerjaan selanjutnya.

Kunci motivasi bukan soal bagaimana pura - pura menjadi kuat, tapi memilih untuk tetap bergerak. Meskipun, hati anda merasa lelah dan kecewa.

4. Empati

Empati bisa membuat anda untuk hadir bagi orang lain dan memahami bagaimana menjadi orang lain, sehingga anda bisa merasakan emosi mereka.

Misalnya, anda melihat anggota tim sedang murung, menjauhkan diri dari rekan kerja lain, merasa hilang semangat. Tentu, dalam posisi ini bisa saja tim sedang membutuhkan seseorang yang mendengar dan memahami keluh kesah.

Mungkin bagi sebagian orang akan memilih untuk mengabaikannya, tapi anda justru memilih hadir dan mendengar dengan menanyakan alasan kenapa terlihat berbeda belakangan ini. 

Ketika anda menciptakan rasa nyaman, maka orang akan berusaha untuk bercerita terkait apa yang dirasakan, meski saran tidak terlalu membantu.

Meski anda mungkin tidak sepenuhnya memahami apa yang ia rasakan, kesediaan anda untuk benar-benar mendengar sudah membuatnya merasa tidak sendirian.

Kunci empati bukan soal bagaimana menjadi perhatian, tapi mampu untuk bisa memberikan semangat ke hidup orang lain. Empati bukan kelemahan, tapi bisa menjadi jembatan kepercayaan.

5. Skill Sosial

Ketika bekerja bersama tim, tentu jalan tidak selalu berakhir mulus karena bisa saja mengalami konflik. Misalnya, 2 rekan kerja yang berhenti bicara satu sama lain  karena urusan pribadi.

Sebenarnya tim bisa mencoba memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Hal ini agar pekerjaan tetap profesional dan membuat suasana tidak canggung dan tegang.

Melihat hal tersebut tentu anda daripada membiarkan masalah terus berlanjut, memilih untuk mengajak mereka ke ruangan anda dan duduk bersama. Anda mencoba untuk mendengarkan masalah tersebut dari kedua belah pihak.

Daripada anda hanya mendengarkan dari 1 pihak dan berujung pada menghakimi. Setelah mendengarkan cerita dari kedua belah pihak, anda mencoba mendamaikan dan menemukan titik temu agar masalah cepat selesai.

Dengan memberi mereka ruang untuk bicara tanpa disela, anda membantu mereka merasa dihargai, bukan disalahkan dan bisa mulai terjalin kerjasama kembali.

Kunci dari skill sosial bukan soal hanya menjadi mediator, tapi mampu untuk menjadi adil, sabar, dan membuat tim menjadi terbuka dengan anda.

Kecerdasan emosional akan membantu dalam membuat keputusan yang bijak karena bukan hanya dari pikiran, tapi juga melalui hati. 

Dalam dunia kerja yang serba cepat dan penuh tekanan, rasa lelah, cemas, atau ragu sering kali muncul tanpa kita sadari. 

Skill ini bukan sekedar soal skill tambahan, tapi bisa menjadi kekuatan yang bisa membuat seseorang bukan hanya sukses, tapi bisa dihormati dan bisa dipercaya.

Kedewasaan emosional bukan sesuatu yang langsung terbentuk, tapi perlahan dilatih melalui kesadaran dan kejujuran terhadap perasaan sendiri.


Original Article: Author :Muhammad Awais Ghani - Title: Emotional Intelligence at Work: Your Superpower (with Real-Life Examples) YouTube: Lead The Hearts Contact: awaisghani1@gmail.com


Komentar

    ℹ️ Terima kasih, tautan ini akan segera hadir.